Contact
Potret UKM Indonesia

Potret UKM Indonesia


UKM atau Usaha Kecil Menengah adalah pilar perekonomian di Indonesia dalam menghadapi serangan pasar global yang kini sudah mulai berlaku yang ditandai dengan banyaknya produk luar negeri yang masuk ke Indonesia dan juga terbukanya pasar melalui akses internet di mana orang dengan mudah membeli barang luar negeri hanya dengan cara order online. Menurut Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, I Wayan Dipta, sekarang ini Indonesia memiliki sekitar 59 juta UKM yang beroperasi dengan produksi baik lokal, nasional, maupun internasional. Salah satu kekuatan yang dimiliki oleh para pelaku industri UKM adalah inovasi dari segi konsep barang, pengemasan, distribusi produk, bahkan manajemennya. Anda bisa menemukan banyak produk yang unik yang dihasilkan oleh para pengusaha UKM untuk menciptakan variasi produk yang beragam dan menciptakan pasar tersendiri sehingga persaingan bisa lebih sehat.

Usaha yang dikategorikan dalam usaha mikro adalah usaha yang memiliki pendapatan per tahunnya kurang dari Rp. 300 juta, untuk usaha kecil adalah usaha dengan pendapatan Rp. 300 juta hingga Rp. 2,5 milyar per tahun, sedangkan usaha menengah adalah usaha dengan pendapatan per tahun yaitu Rp. 2,5 milyar hingga Rp. 50 milyar. Dengan nilai pendapatan yang maksimal, sektor UKM seharusnya bisa berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto hingga 57,94% atau berkisar Rp. 4.303 triliun. Selain itu, industri kecil menengah ini juga bisa menyerap tenaga kerja hingga 110,8 juta yang tentu sangat membantu dalam mengurangi angka pengangguran. Meskipun punya potensi yang luar biasa namun masih ada beberapa hal yang jadi hambatan bagi UKM:

  1. Pemasaran belum tersentuh IT

Anda mungkin sudah banyak menemukan produk UKM yang dipasarkan menggunakan teknologi misalnya di toko online atau melalui sosial media. Namun pada kenyatannya dari hampir 60 juta UKM yang ada, hanya sekitar 20% saja yang memanfaatkan penggunaan teknologi dengan maksimal. Yang lainnya belum paham cara memasarkan produk dengan sarana digital dan lebih banyak melakukan pemasaran dengan cara konvensional. Dengan begitu target pasar tidak akan berkembang dan jumlah konsumen stagnan kalah dari UKM yang memaksimalkan penggunaan sarana online.

  2. Diversifikasi produk belum maksimal

Salah satu hambatan yang dimiliki oleh orang Indonesia dalam mengembangkan UKM adalah produk yang masih mengandalkan ilmu latah. Maksudnya keunikan dari produk yang dihasilkan belum begitu tinggi sehingga jika ada satu produk yang berhasil di pasaran maka pengusaha lainnya akan memproduksi barang yang sama hanya dengan nama yang beda.

  3. Permodalan yang dinilai masih berat

Hambatan yang tidak kalah pentingnya untuk diatasi tentu saja adalah masalah mencari modal yang sulit bagi para pengusaha UKM. Sumber modal utama untuk pinjaman UKM masih dari bank, padahal masyakarat Indonesia masih belum tinggi tingkat literasi keuangan dan juga indeks inklusi keuangannya.


SOFIS hadir sebagai startup yang membidangi sektor investasi pinjaman dengan mekanisme peer to peer lending. Di mana para pengusaha UKM bisa bergabung dengan platform kami untuk mengajukan pinjaman bisnis yang nantinya akan ditayangkan dalam penggalangan dana yang bisa dilihat oleh jaringan investor kami yang luas. Investor bisa langsung memberikan dana pinjamannya untuk pengembangan usaha UKM kemudian mendapatkan keuntungan dari suku bunga pinjaman pokok yang dibayarkan kembali oleh peminjam. Dengan kemudahan investasi dan juga mencari dana pinjaman, platform marketplace pinjaman seperti SOFIS bisa menjadi faktor berkembangnya UKM yang lebih maju lagi demi ekonomi nasional yang makin kuat.

Comments

comments