Contact
P2P Lending Dalam Konteks Teknologi Keuangan Dunia

P2P Lending Dalam Konteks Teknologi Keuangan Dunia


Saat ini Indonesia sedang senang-senangnya menggarap potensi digital yang makin subur yang didukung oleh potensi pasar sekaligus sumber daya manusia yang luar biasa antusias. Dalam bidang produk digital, yang masih jadi favorit saat ini adalah di sektor e-commerce di mana belanja online kini jadi bagian gaya hidup masyarakat Indonesia yang sudah mulai menempel. Namun di antara banyak startup yang menggarap e-commerce dan produk digital lainnya, ada satu jenis startup yang mulai menampakkan diri dan membuat banyak wajah berpaling, yaitu fintech. Fintech atau financial technology adalah fenomena penyelenggaraan jasa keuangan dengan memanfaatkan platform digital, salah satu bentuknya adalah peer to peer lending.

Peer to peer lending atau P2P Lending adalah mekanisme pinjaman melalui platform marketplace digital seperti SOFIS yang memberikan fasilitas bagi pemilik dana dengan peminjam dana agar keduanya punya akses terhadap jasa keuangan yang lebih cepat, praktis, mudah, dan aman. Platform P2P Lending adalah bentuk fintech yang dalam beberapa tahun terakhir berkembang cukup pesat di Asia, termasuk di Indonesia dengan nilai investasi yang cukup tinggi dan terus meningkat setiap tahunnya. P2P Lending pun dianggap sebagai solusi bagi program inklusi keuangan yang belum bisa diacapai hanya dengan mengandalkan lembaga keuangan tradisional bank dan nonbank.

Sejarah perkembangan P2P Lending

Jika dilihat dari perusahaan fintech pertama yang menawarkan sistem P2P Lending maka asal muasalnya ada pada perusahaan di Inggris yang bernama Zopa. Zopa menawarkan sistem investasi pinjaman ala P2P Lending pertama kali pada tahun 2005 dan langsung berkembang pesat di tahun-tahun berikutnya dan disertai dengan banyaknya perusahaan yang menawarkan mekanisme serupa termasuk di Amerika dan Eropa. Perkembangan peer to peer lending yang pesat diduga karena krisis global yang menyebabkan bank-bank menutup penyaluran kredit baru dan para deposan yang diberikan suku bunga nyaris 0%. Para pemilik dana mencari jalur investasi yang lebih menguntungkan, sementara peminjam mencari alternatif pinjaman selain bank.

P2P Lending sebagai penyaluran dana modern

Potensi berkembangnya penyelenggara jasa keuangan berbasis financial technology dinilai akan semakin besar terutama karena perkembangan dunia digital yang juga makin masuk ke ranah kehidupan masyarakat yang lebih praktikal. Markus Gnirck, co-founder dari Startupbootcamp FinTech memberikan data nilai pasar fintech dunia yang mencapai angka 12 juta Dollar AS atau sekitar 162 miliar Rupiah. Hal ini tentunya juga akan berpengaruh pada potensi P2P Lending yang makin berkembang di Indonesia.
Mekanisme investasi pinjaman melalui platform online ini dianggap merupakan solusi dari inklusi keuangan di mana jasa keuangan seperti bank sudah dianggap kuno bahkan banyak yang masih tidak percaya untuk berinvestasi ataupun mengajukan pinjaman ke bank. Dengan mekanisme pinjaman dan juga investasi dengan peer to peer lending bisa memudahkan masyarakat dalam mendapatkan akses jasa keuangan melalui kemajuan fintech yang kini main diperkuat dengan adanya regulasi resmi yang menjamin keamanan dan efektivitas dari mekanisme ini.

Fintech diprediksi akan masih terus berkembang dan mengubah perilaku serta sistem jasa keuangan di dunia. Fintech kini tidak lagi istilah yang hanya dikenal sebagai istilah sulit dalam dunia ekonomi dan politik karena keberadaannya sudah mulai banyak dirasakan oleh masyarakat umum terutama bagi yang tertarik dengan investasi yang menguntungkan. Peer to peer lending yang bisa subur di Indonesia merupakan salah satu dampak dari berkembangnya fintech di kalangan masyarakat. P2P Lending dipandang sebagai investasi dengan resiko yang lebih minim, sementara bagi para peminjam P2P Lending bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan dana dengan cara yang sangat mudah dengan sistem online.

Comments

comments