Contact
Kolaborasi Industri Fintech dan Lembaga Keuangan Konvensional

Kolaborasi Industri Fintech dan Lembaga Keuangan Konvensional

Kehadiran industri fintech saat ini, sering dikatakan akan menjadi pesaing lembaga keuangan konvensional. Kehadiran layanan fintech yang lebih cepat dan mudah, dibandingkan lembaga keuangan konvensional. Dapat membuat masyarakat lebih memilih fintech, dan meninggalkan lembaga keuangan konvensional. Mungkin di Indonesia sendiri saat ini, lembaga keuangan konvensional masih menjadi pilihan utama orang banyak. Namun, tetap ada kemungkinan di masa depan lembaga keuangan konvensional akan ditinggalkan. Contoh nyatanya seperti di china saat ini, perusahaan fintech Alipay lebih dipilih masyarakat china, dibandingkan dengan industri perbankan dan lembaga keuangan konvensional yang ada disana. Ini dapat menjadi persaingan, yang tidak sehat pada industi pelayanan keuangan. Kehadiran fintech, juga memberikan pelayanan baru yang tidak dapat diberikan oleh lembaga keungan konvensional lainnya. Fintech sendiri dibagi menjadi banyak pelayanan seperti crowdfunding, payment, personal/financial planing, dan peer to peer lending.

Konsep industri fintech sendiri, sama seperti perusahaan startup yang menawarkan pelayanan digital dengan kemudahan dan pelayanan yang cepat. Karena saat ini, masyarakat kita menginginkan kemudahan dalam segala hal. Belum lagi, dengan kehadiran generasi millennials yang menginginkan semuanya berjalan dengan cara yang praktis. Millennials sendiri, telah menjadi target industri startup dan fintech. Karena pada dasarnya, merekalah yang akan menjadi pengguna terbesar layanan tersebut. Hal itu, juga mebuat fintech terus berinovasi memperbarui layanan mereka agar menjadi lebih mudah.

Inovasi yang dilakukan fintech, sebenanrnya juga memacu layanan lembaga keuangan konvensional melakukan hal yang sama. Contohnya pada industri perbankan yang mulai memberikan layanan digital dan terus mengembangkannya untuk bisa digunakan oleh nasabah mereka. Bahkan, ada juga perbankan yang membuat virtual assistant secara digital yang dapat digunakan oleh seluruh nasabah mereka.

Memang untuk mempertahankan lembaga keuangan konvensional saat ini, lembaga keuangan konvensional juga harus berinovasi agar mereka tidak tertinggal jauh oleh layanan fintech yang memberikan solusi yang lebih mudah. Memang pada dasarnya, persaingan lembaga keuangan konvensional akan lebih berat lagi. Karena lembaga keungan konvensional, juga harus bersaing melawan industri fintech yang mulai hadir di Indonesia.

Walaupun adanya persaingan, fintech dan lembaga keuangan konvensional bisa saling bersinergi satu sama lain. Lembaga keuangan konvensional, bisa menawarkan fintech sebagai partner bisnis mereka. Sinergi ini, bisa mencegah terjadinya konflik antara perusaahan keuangan konvensional dan perusahaan keungan digital. Bahkan sudah ada beberapa industri perbankan, yang mulai berkerja sama dengan fintech. Untuk saling bisa menawarkan solusi keungan yang mudah di era digital pada orang banyak.

Karena perkembangan dunia digital tidak kenal waktu dan wilayah, dan akan terus berubah setiap waktunya. Cara yang baik dilakukan untuk Lembaga keungan konvensional dan fintech agar dapat bersinergi, bisa dengan cara kerjasama database dimana database incumbent industri bisa di-share dengan startup fintech. Lalu membangun model hybrid produk kolaborasi inkumben industri dan startup fintech. Selain itu,  para regulator dan pihak terkait juga harus bersinergi menjaga perkembangan fintech dan lembaga keungan konvensional. 

Kerjasama seperti ini, akan membuat kesepakatan yang bisa membuat industri tersebut berjalan berdampingan untuk memberikan layanan keungan kepada masyarakat. Dan dengan cara inilah, industri keuangan di Indonesia tidak terpecah dan tetap utuh sebagai motor penggerak perekonomian.

Comments

comments